News Tobadak– Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tentang tujuan pembangunan Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh kembali menjadi sorotan publik. Dalam sejumlah kesempatan, Jokowi menegaskan bahwa proyek transportasi massal tersebut tidak semata-mata bertujuan mencari keuntungan finansial, melainkan memiliki dampak sosial yang besar bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Menurut Jokowi, transportasi massal seperti Whoosh, MRT, dan LRT harus dinilai dari manfaat sosial (social return on investment) yang dihasilkannya, bukan hanya dari laba langsung.
“Transportasi massal itu bukan diukur dari laba, tetapi dari keuntungan sosial seperti pengurangan emisi karbon dan peningkatan produktivitas masyarakat,” ujar Jokowi dalam sebuah kesempatan di Surakarta.
Jokowi menambahkan, pembangunan Whoosh adalah bagian dari solusi untuk mengurai kemacetan parah di Jakarta dan Bandung yang selama ini menjadi beban besar bagi negara. Ia mengungkapkan, kemacetan di dua kota tersebut diperkirakan menimbulkan kerugian ekonomi hingga Rp100 triliun per tahun akibat hilangnya waktu produktif dan pemborosan bahan bakar.
“Transportasi massal memberikan manfaat sosial yang nyata, mulai dari berkurangnya polusi, meningkatnya efisiensi waktu, hingga mendorong produktivitas masyarakat. Itulah yang disebut social return on investment,” tambah Jokowi.
Purbaya: “Ada Betulnya Juga Sedikit”
Pernyataan Jokowi itu mendapat tanggapan dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, yang menilai bahwa pandangan mantan presiden dua periode itu memiliki dasar kuat — meski menurutnya masih ada pekerjaan rumah besar di sektor pengembangan wilayah sekitar jalur Whoosh.
“Ada betulnya juga sedikit, karena Whoosh itu sebetulnya ada misi regional development juga kan. Tapi yang regionalnya belum dikembangkan, terutama di kawasan sekitar stasiun dan jalur Whoosh supaya ekonomi di sekitar itu tumbuh. Itu harus dikembangkan ke depan, jadi ada betulnya,” ujar Purbaya saat ditemui di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan.

Baca Juga: Prabowo Targetkan Produksi Mobil Nasional 3 Tahun Lagi DPR Pengawasan Ketat
Ia menekankan bahwa proyek seperti Whoosh bisa memberikan dampak ekonomi berlipat apabila kawasan-kawasan transitnya dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan baru. Dengan strategi pengembangan yang tepat, Whoosh tak hanya menjadi moda transportasi modern, tetapi juga pengungkit ekonomi daerah di sepanjang jalurnya.
“Kalau kawasan di sekitar stasiun Whoosh dikembangkan secara optimal, manfaat ekonominya bisa jauh lebih besar. Nilai investasi sosial yang disebut Pak Jokowi itu akan benar-benar terasa lewat pertumbuhan ekonomi daerah,” tambahnya.
Polemik dan Tantangan Pembiayaan
Meski telah beroperasi dan menjadi simbol kemajuan infrastruktur Indonesia, proyek Whoosh tetap menyisakan perdebatan, terutama soal pembiayaan dan utang yang masih harus dilunasi pemerintah.
Dengan nilai investasi mencapai US$7,2 miliar atau sekitar Rp116,54 triliun (kurs Rp16.186 per dolar AS), proyek ini menjadi salah satu infrastruktur paling ambisius dalam sejarah Indonesia.
Namun Purbaya menegaskan, pemerintah tidak akan menggunakan dana APBN untuk membayar utang proyek tersebut. Ia menyebutkan bahwa tanggung jawab pengelolaan kini berada di tangan Danantara, entitas yang mengelola sejumlah investasi strategis BUMN.
“Itu kan Whoosh sudah dikelola oleh Danantara. Danantara sudah mengambil lebih dari Rp80 triliun dividen dari BUMN, seharusnya mereka bisa mengatur pembayaran utang dari situ saja,” jelas Purbaya.








